Kegiatan Sebelumnya

Visiting Professor 2016, SCKD I 2017

SCKD 2017

Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) 2017 ialah program lanjutan dari program Visiting World Class Professor (WCP) 2016. Tujuan, lokasi penyelenggaraan, jumlah kelompok ilmuwan (tujuh kelompok), dan format penyelenggaraan kegiatan inti SCKD 2017 tidak jauh berbeda dengan WCP 2016. Hal yang berbeda dari program ini ialah adanya perubahan nama menjadi “Simposium Cendekia Kelas Dunia”, karena harus menyesuaikan dengan status para Professor dan Ilmuwan Diaspora dan dari dalam negeri. Sementara itu tema kegiatan yang semula bernama “World Class Professor” diubah menjadi “World Class Scholars” karena bermaksud memfasilitasi publik dari luar lingkungan perguruan tinggi secara lebih luas. SCKD 2017 diinisiasi oleh Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti, bekerja sama dengan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I4) dan Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI). Sebanyak 40 Diaspora Indonesia dari 11 negara yang diundang dalam program ini bertindak sebagai introductory speaker dan tutor para ilmuwan, dosen, kelompok keilmuan, hingga mahasiswa di berbagai perguruan tinggi dalam negeri untuk mampu menulis karya dan mempublikasikannya di jurnal bereputasi internasional.

http://diaspora.ristekdikti.go.id/wp-content/uploads/2018/06/DSC08793-3.jpg
http://diaspora.ristekdikti.go.id/wp-content/uploads/2018/06/Copy-of-OF0A7377-1.jpg

Visiting Professor 2016

Visiting World Class Professor 2016 ialah program unggulan sekaligus program peneroka Kemenristekdikti yang digagas oleh Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti, bekerja sama dengan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I4). Program ini pertama kali dilaksanakan di Jakarta dan bertujuan meningkatkan publikasi karya ilmiah perguruan tinggi dalam negeri dengan mendatangkan 40 Professor dan Ilmuwan Diaspora Indonesia yang bekerja di perguruan tinggi terbaik di berbagai belahan dunia. Diaspora yang diundang dalam program ini bertindak sebagai guest lecture di berbagai perguruan tinggi Indonesia yang dibagi ke dalam tujuh kelompok keilmuan, yakni 1) ketahanan pangan; 2) energi baru terbarukan; 3) kesehatan dan obat-obatan; 4) pertahanan dan material maju; 5) teknologi, informasi, dan komunikasi; 6) politik, sosial, ekonomi, seni, dan budaya; dan 7) kemaritiman.