Konferensi WISE 2017

IMG_4470-1200x900.jpg

Anto Mohsin, Ph.D.

Dari tanggal 14 hingga 16 November 2017 lalu, di Doha ibu kota Qatar telah diadakan konferensi internasional World Innovation Summit for Education (WISE). Pertemuan dua tahun sekali ini telah dilangsungkan sejak 2009 dan telah berkembang menjadi forum mendunia, di mana para pemikir, praktisi, pengamat, dan penanam modal di bidang pendidikan, teknologi, dan media, berkumpul dan saling berbagi informasi. Tema konferensi kali ini adalah “Co-exist, Co-create: Learning to Live and Work Together” (Hidup Bersama dan Mencipta Bersama: Belajar Hidup dan Bekerja Bersama).  

Acara dilangsungkan di Qatar National Convention Center (QNCC) yang letaknya berseberangan dengan Education City (Kota Pendidikan) tempat 8 universitas asing yang diundang Qatar membuka kampus di sini dan juga tempat universitas Hamad Bin Khalifa berdiri.

Para peserta konferensi WISE kali ini datang dari lebih 100 negara. Mereka memberikan ceramah, mendengarkan presentasi, berdiskusi, dan saling bertukar pikiran mengenai masa depan pendidikan.

Acara pertemuan ini seperti juga acara-acara sebelumnya mendapat dukungan penuh pemerintah Qatar. Ibunda Emir Qatar yang juga merupakan Ketua Yayasan Qatar untuk Pendidikan, Sains, dan Pembangunan Masyarakat Sheikha Moza bint Nasser hadir memberikan kata sambutan. Beliau didampingi salah satu putrinya Sheikha Hind bin Hamad al-Thani yang berperan sebagai Wakil Ketua dan Direktur Eksekutif Yayasan Qatar. Dalam acara ini juga turut hadir Ibu Negara Turki Emine Erdogan.

Pemilihan nama konferensi ini dan juga singkatannya “wise,” Bahasa Inggris yang artinya “bijak” sangat tepat karena konferensi WISE merupakan ajang berbagai aktivitas yang sangat berharga, bermanfaat, dan bijak. Contohnya selain sesi diskusi dan ceramah, ada juga sesi pembelajaran untuk murid-murid umur 12–14 tahun dan guru-guru mereka. Juga secara tersirat, tujuan pendidikan di berbagai negara adalah untuk menghasilkan manusia-manusia berpengetahuan yang bijak.

Tahun ini saya berkesempatan hadir dalam pertemuan ini, bertemu dan mendengarkan beberapa inovator pendidikan yang berpengaruh. Salah satunya Fareed Zakaria, orang Amerika keturunan India ini adalah jurnalis dan pemandu acara Fareed Zakaria GPS di CNN dan pengarang beberapa buku yang telah banyak dibaca orang. Salah satu karyanya berjudul In Defense of Liberal Education. Di dalam buku ini Zakaria menjelaskan pentingnya model pendidikan tinggi Amerika Serikat yang luwes menggabungkan bidang-bidang Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), humaniora, dan ilmu-ilmu sosial dalam kurikulum pendidikan tinggi.

Pengalamannya mengenyam pendidikan di negara asalnya India dan negara barunya Amerika Serikat membuahkan suatu pelajaran berharga. Inti dari apa yang Zakaria sebut pendidikan Liberal Arts ini adalah mengajarkannya bagaimana menulis dengan baik. Karena dengan menulis dengan baik, akan membuahkan keahlian berpikir dengan baik. Kurikulum pendidikan tinggi yang berbasis Liberal Arts akan mengajar dan melatih para mahasiswa dan mahasiswi (apa pun jurusan mereka di perguruan tinggi) untuk dapat menulis, berpikir, dan berkomunikasi dengan baik dan jelas. Kurikulum ini juga dapat mencetak para lulusan universitas yang akan selalu bersemangat untuk kerap belajar seumur hidup.

Banyak yang pernah mengenyam pendidikan tinggi di universitas-universitas di Amerika Serikat tahu kalau kurikulum Pendidikan Tinggi di AS tidak kaku dalam hal penjurusan sehingga banyak mahasiswa dan mahasiswi bebas dan bahkan dianjurkan untuk mengambil mata kuliah-mata kuliah lain yang berbeda dengan jurusannya. Yang belajar biologi bisa mengambil kelas teater, musik, atau tari, misalnya. Sebaliknya yang mengambil jurusan sastra Inggris bisa mengambil kelas fisika, matematika, astronomi, atau kelas-kelas lainnya.

Persilangan pendidikan seperti ini melatih mahasiswa dan mahasiswi untuk memiliki wawasan luas, berpandangan ke depan, dan terbuka untuk memahami berbagai dasar keilmuan (epistemologi). Sehingga di AS tidak aneh mahasiswa lulusan teknik bisa menjadi sejarawan, mahasiswa lulusan ilmu politik dan biologi bisa belajar jadi dokter, atau mahasiswi yang awalnya ingin jadi dokter bisa menjadi sastrawan. Pendidikan seseorang tidak harus selalu linear dan kaku.

Selain model pendidikan Amerika Serikat, ada hal lain yang dibahas di pertemuan WISE.  Kali ini WISE juga mengundang Kishore Mahbubani, Dekan Lee Kuan Yew School of Public Policy, National University of Singapore. Mahbubani, Zakaria, dan Vicky Colbert mengisi acara diskusi mengenai pendidikan di era post-truth di mana merebaknya berita-berita palsu (fake news) membuat fakta-fakta yang objektif kalah pengaruh dalam membentuk opini publik ketimbang hal-hal yang berkenaan dengan kepercayaan pribadi dan emosi pembaca berita.

WISE juga mendatangkan novelis asal Nigeria Chimamanda Ngozi Adichie. Kuliah umum Adichie yang direkam oleh Ted Talk yang berjudul “The Danger of a Single Story” (Bahaya Cerita Tunggal) telah ditonton lebih dari 13 juta kali oleh pemirsa. Pesan inti Adichie adalah kalau kita hanya mau mendengar atau hanya mau tahu satu cerita saja mengenai seseorang, komunitas, atau negara, kita berisiko untuk tidak memahaminya secara utuh, individu, komunitas, atau negara tersebut. Konsekuensinya kita hanya bisa membentuk opini yang dangkal dan bias.

Di salah satu sesi yang dipandu oleh Professor Hariclea Zengos dari Northwestern University di Qatar (NU-Q), Adichie berpesan kalau kita semua perlu banyak membaca buku. Bukan saja buku-buku pelajaran, tetapi juga novel dari berbagai negara. Dengan begitu kita akan belajar kalau dunia yang kita tinggali bersama ini tidak hitam putih dan banyak kebudayaan-kebudayaan lain yang hidup berdampingan dengan kebudayaan kita. Sehingga kita bisa memahami berbagai bentuk kehidupan manusia, mengembangkan empati, dan menjadi lebih terbuka akan kebinekaan kemanusiaan.

Di sesi acara yang menghadirkan Dr. Amal Mohammed Al Malki (Dekan Pendiri Sekolah Humaniora dan Ilmu-ilmu Sosial Universitas Hamad bin Khalifa), Saku Tuominem (inovator pendidikan asal Finlandia dan pendiri Idealist Group), dan Raul Gutierrez (pendiri dan Dirut perusahaan Tinybop yang membuat aplikasi pembelajaran anak-anak), mereka berdiskusi dengan peserta konferensi mengenai kunci kesuksesan para murid di abad ke-21. Menurut mereka tujuan utama pendidikan adalah mengajarkan kepada para murid bukan saja materi pendidikan dan perkuliahan, tetapi (dan yang lebih penting) bagaimana caranya untuk menyenangi aktivitas belajar. Pesan mereka sejalan dengan semangat mengembangkan kemampuan dan kemauan untuk belajar seumur hidup. Namun, belajar di sini memiliki arti yang luas, bukan saja yang berkenaan dengan pekerjaan dan profesi, tapi juga termasuk belajar memecahkan berbagai persoalan baik itu kecil atau besar.

Hadiah prestisius WISE Prize for Education dengan uang senilai 500.000 dolar kali ini dianugerahkan kepada pendiri dan rektor Dr. Patrick Awuah, pendiri dan rektor Universitas Ashesi di Ghana, universitas swasta nirlaba yang mengajarkan kurikulum interdisipliner sebagai kurikulum intinya.  Sheikha Moza bint Nasser memberikan penghargaan ini langsung ke Dr. Awuah di hadapan 2000 peserta konferensi.

Dr. Awuah pernah mengenyam pendidikan di Amerika Serikat dan sempat bekerja di perusahaan Microsoft. Namun, kemudian dia kembali ke negara asalnya untuk mendirikan universitas baru yang menurut visinya akan mencetak banyak tenaga dengan keahlian-keahlian untuk abad ke-21, yaitu berpikiran kritis dan mandiri, serta berperilaku yang etis dan mampu bekerja sama dengan banyak orang. Dengan kata lain, Universitas Ashesi didirikan untuk mencetak pemimpin-pemimpin baru Afrika untuk masa depan. Usaha Dr. Awuah telah membuahkan hasil karena Universitas Aseshi telah banyak mencetak sarjana-sarjana berkualitas di Afrika.

Untuk suatu acara tahunan yang cukup mengglobal, saya sangat berharap bertemu dengan beberapa pakar pendidikan dari Indonesia di konferensi WISE tahun ini. Sayangnya saya hanya sempat bertemu dengan bendahara dari Universitas Presiden di Indonesia. Mungkin ada delegasi lain yang hadir yang saya tidak sempat bertemu. Akan tetapi sudah waktunya lebih banyak lagi pakar, pemikir, dan praktisi pendidikan di Indonesia berinteraksi dengan kolega-kolega mereka dari negara-negara lain.

Orientasi pendidikan kita yang selama ini condong ke dalam harus juga ke luar, karena di era globalisasi ini sudah waktunya kita juga belajar dari pengalaman tokoh-tokoh pendidikan negara lain, mendalami model-model pendidikan di tempat-tempat lain, dan berbagi pengalaman pendidikan di Indonesia dengan bangsa-bangsa lain. Satu usaha ke arah itu bisa dimulai dengan mendengar Wise Words Podcasts https://soundcloud.com/wisewordspodcast yang berisi rekaman-rekaman perbincangan dengan beberapa tokoh pendidikan ternama.

Semua ini tentunya agar wawasan, pengalaman, cara pandang, pendekatan, dan proses pembelajaran di tanah air menjadi lebih baik. Sehingga bangsa kita tidak akan tertinggal dalam mencetak lulusan-lulusan yang siap menghadapi tantangan-tantangan di abad ke-21.

Anto Mohsin, Ph.D., pemerhati pendidikan di Qatar dan dosen di Liberal Arts Program, Northwestern University, Qatar.