menpanRB-1200x801.jpeg

14 Agustus 2018 Admin Laman Diaspora

Tersiarnya kabar tentang dibukanya kesempatan bagi ilmuwan diaspora Indonesia di berbagai negara dunia untuk bergabung menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) belakangan ini cukup membuat media massa dan ruang-ruang publik serta pemerintahan menjadi ramai. Perbincangan tentang skema dan regulasi ASN, alasan pemerintah membuat putusan, dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan ASN, menjadi sajian informasi yang sukar berhenti.

Kendati memasuki era revolusi industri 4.0 ini, berbagai macam jenis pekerjaan baru bermunculan, ASN selalu menjadi primadona bagi masyarakat Indonesia. Sebab, untuk bisa sampai pada posisi tersebut butuh usaha yang tidak mudah. Setiap kali pendaftaran ASN dibuka, jutaan masyarakat Indonesia tak pernah Lelah mencoba peruntungannya merebutkan posisi ASN yang kerap dibuka tidak lebih dari seratus posisi. Dan di tengah kondisi demikian, tiba-tiba saja Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB) membuka kesempatan untuk ilmuwan diaspora menjadi ASN. Hal ini dengan tentu saja dengan sangat jelas akan menimbulkan peta persaingan baru di antara para pemburu CPNS yang belum beruntung.

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) dalam rangkaian kegiatan Simposium Cendekia Kelas Dunia, 13 Agustus 2018, di Jakarta, memberikan kesempatan kepada 47 ilmuwan diaspora yang diundang untuk bertemu langsung dengan Hermawan Suyatman, Sekretaris Deputi Bidang SDM Aparatur. Sebuah acara yang menurut Sesditjen Sumber Daya Iptek dan Dikti, sejak pertama kali digagas pada 2016, sampai saat ini telah menghasilkan impak yang luar biasa terhadap dunia keilmuan Indonesia dan dunia.

Dalam kesempatannya berbicara tentang “Peran dan Pemberdayaan Diaspora dalam Manajemen Aparatur Sipil Negara”, Hermawan mengungkapkan bahwa peta kebutuhan tenaga kerja di Indonesia saat ini benar-benar timpang. Ada banyak jenis pekerjaan yang belum mampu dikerjakan oleh orang Indonesia dengan kemampuan yang ada. Alasan mengapa ASN pada akhirnya dibuka untuk diaspora adalah demi memenuhi kebutuhan ini, terutama untuk memperkuat sumber daya yang ada dalam menghadapi era disrupsi ke depan dan dalam upaya mewujudkan pemerintah kelas dunia di tahun 2024.

“Selama ini, tenaga kerja Indonesia sangat banyak. Tetapi, tenaga kerja yang spesifik sangat sedikit dan kespesifikan itu dimiliki oleh diaspora,” tuturnya.

Tenaga kerja Indonesia saat ini didominasi oleh pelaksana administrasi. Jumlah ini tidak sesuai dengan kebutuhan suatu instansi di berbagai wilayah. Padahal rencana pengembangan birokrasi Indonesia ke depan adalah membangun birokrasi berkelas dunia sesuai dengan kondisi zaman. Di mana spesialisasi individu yang sesuai dengan kondisi sumber daya yang ada di sekitarnya merupakan urgensi.

Herman menjelaskan, bahwa Kemenpan RB membutuhkan sinergi antarsektor dan lembaga pemerintah untuk sama-sama merencanakan pembangunan berkesinambungan. Karena selama ini masih banyak peta pembangunan yang bertumpang tindih dengan program yang lain. Padahal ekspektasi masyarakat terhadap perubahan yang diinisiasi oleh negara sangatlah besar.

Dalam sesi diskusi bersama ilmuwan diaspora, kabar perihal pemanfaatan diaspora dengan menjadikan mereka bagian dari ASN menjadi topik yang hangat diperbincangkan.

Davin Setiamarga, Associate Professor of Molecular Biology di National Institute of Technology, Wakayama College, mengungkapkan kebingungannya tentang tujuan utama yang ingin dicapai oleh pemerintah dengan menjadikan diaspora sebagai ASN. Karena menurutnya, menjadikan diaspora sebagai ASN bukanlah langkah utama yang harus diambil pemerintah.

Satria Zulkarnaen, seorang Research Scientist di RIKEN Center for Emergent Matter Science, Jepang, juga turut memberikan pandangannya terkait pemanfaatan diaspora. Ia menilai, langkah Kemenpan RB menjadikan diaspora sebagai ASN harus dibuatkan format atau platformnya agar skemanya jadi lebih jelas. Jika kedua hal tersebut tidak usai, maka dapat dipastikan impak dari perekrutan diaspora tidak akan terasa bahkan tidak ada. Ia menambahkan, kecuali pemerintah Indonesia mau meniru apa yang dilakukan oleh lembaga tempatnya bekerja di Jepang dalam hal perekrutan diaspora dari satu instansi ke instansi lainnya.

Biasanya dalam merekrut ilmuwan, lembaga di Jepang tidak pernah merekrutnya secara sendirian. Ada komponen yang juga menjadi bagian terpenting dalam proses perekrutan, seperti perlatan penelitian, laboratorium, hingga sumber daya manusia yang bisa membantu proses di dalamnya. Meskipun kerja seorang ilmuwan pada akhirnya adalah bekerja dalam kesunyian, tetapi keberadaan rekan kerja menjadi nilai penting yang tidak bisa diabaikan.

“Jika ilmuwan direkrut sendiri, ia akan sulit menjalankan tugasnya, meneliti dan berinovasi,” ungkap Satria.

Berkaca pada pengalaman yang telah dialami para diaspora, Herman menegaskan bahwa sebenarnya negara memberikan peluang kepada siapa pun untuk memilih. Terkait memanfaatkan atau tidak peluang yang telah diberi, itu dikembalikan pada individu masing-masing (diaspora). Sebab dalam menentukan hal tersebut, pemerintah harus mempertimbangkan keuangan yang dimiliki negara. Pemerintah tidak bisa serta merta memutuskan sesuatu tanpa didasari fakta dan pertimbangan terlebih dahulu. Meskipun setiap dari kita meyakini bahwa apa yang dilakukan oleh pemerintah adalah benar. Tetapi kebenaran tanpa data adalah sebuah kebenaran yang tidak bisa dipercaya. []


SCKD-2018-Sri-Mulyani.jpeg

14 Agustus 2018 Admin Laman Diaspora

JAKARTA – Indonesia tengah mengejar ketertinggalan pembangunan, maka aset yang paling penting dalam segala aspek pembangunan adalah aset manusianya. Hal itu disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani saat memberikan kuliah umum dalam acara Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) 2018, Senin (13/8/2018) di Royal Kuningan Hotel, Jakarta. Dihadapan 48 ilmuwan Diaspora Indonesia dan perwakilan perguruan tinggi, Sri Mulyani mengatakan pemerintah tengah fokus dalam mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM).

“Ini adalah suatu era di mana Indonesia menempatkan manusia dengan pembangunan manusia sebagai prioritas yang besar, karena saya yakin bahwa Indonesia tidak mungkin untuk mencapai cita-cita kemerdekaan yang disampaikan para pendiri bangsa kita untuk selalu menjaga pemerintahan, kedaulatan, kedamaian abadi dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” kata Sri Mulyani.

Tentu dengan kapasitas manusia yang tak hanya mampu mengurus dirinya sendiri, tetapi yang mampu memimpin banyak orang. Terlebih lagi Indonesia akan memiliki bonus demografi dengan usia muda yang melimpah. Itu menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk mengejar ketertinggalan pembangunan. Bonus demografi ini harus dioptimalkan dengan baik, apalagi Indonesia diprediksi menjadi negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kelima pada 2045.

“Dengan penduduk yang besar memberikan semacam kesempatan untuk mengejar tujuan pembangunan yang kita capai, maka investasi di bidang manusia jadi prioritas pemerintah sampai 2045,” ujarnya.

Sejak tahun 1998, lanjut Sri Mulyani, negara berkewajiban untuk menyisihkan minimal 20 persen dari APBN untuk pendidikan sebagai upaya meningkatkan kualitas SDM bangsa. Meski demikian, dia mengakui bahwa penggunaan anggaran masih belum dimanfaatkan secara maksimal dan optimal.

Memang anggaran APBN untuk pendidikan menjadi anggaran terbesar. Namun Sri Mulyani mengingatkan bahwa pembangunan kualitas manusia tak hanya direflesikan dengan besarnya jumlah anggaran saja.

Salah satu upaya pemerintah adalah dengan membangun infrastruktur secara merata. Karena semua manusia terutama masyarakat Indonesia tengah dihadapkan pada era teknologi yang serba cepat, maka tercukupinya infrastruktur yang memadai akan sangat berpengaruh untuk pembangunan negara dan bangsa ini.

“Membangun infrastruktur bukan lah hobi, melainkan ini adalah ketertinggalan sekaligus kebutuhan yang tak bisa ditunda. Ini adalah keniscayaa dari suatu negara untuk mencapai peningkatan kualitas manusia,” tegas mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu.

Pada kesempatan itu juga Sri Mulyani mengungkapkan pentingnya kolaborasi antar ilmuwan dalam dan luar negeri. Seorang individu, imbuhnya, relatif lebih mudah untuk menjadi pintar. Sedangkan untuk menghasilkan jutaan manusia jenius di suatu bangsa merupakan tantangan yang harus dipecahkan bersama-sama.

Sri Mulyani pun menyadarai ilmuan diaspora yang kini hadir hanya lah sedikit dari lapisan masyarakat Indonesia yang memiliki kualifikasi di atas rata-rata. “Para cendekia, ilmuwan diaspora harus menjadi role model dan inspirator, menyelesaikan pekerjaan rumah negara. Seperti infrastruktur yang pembangunannya sedang dikejar saat ini harus dibangun berkelanjutan,” sebutnya.

Ia berharap para insan cendekia ini mampu menjadi pemikir dalam mencari solusi bagi Indonesia. Sebab kini kita dihadapkan pada dunia yang terus bergerak secara cepat. “Indonesia membutuhkan manusia seperti di rungan ini (ilmuan diaspora), tapi dikalikan 200 juta kali,” tutup Sri Mulyani. (Alawi)


sumarsam.jpg

Prof. Sumarsam

Winslow-Kaplan Professor of Music

Wesleyan University

I. Tanggal 24 April yang lalu, saya menerima surat dari Presiden Society for Ethnomusicology (SEM), salah satu dari organisasi musik paling besar di Amerika, yang isinya memberi kehormatan kepada saya sebagai “Honorary member of SEM” dengan dasar sbb: “Your scholarship on gamelan and wayang performance traditions has extended our discipline and inspired the SEM membership. Your mentorship of countless students and colleagues, both directly and by example, is held in high esteem, and the ways that you simultaneously embrace and speak to the various subfields among the disciplines of music scholarship is exemplary. You demonstrate not only a unique career, but one to which we all aspire.” Pemberian gelar kehormatan ini sudah saya terima, dan secara resmi akan diumumkan dan dirayakan di konferensi tahunan SEM pada bulan Nopember yang akan datang, di Albuquerque, New Mexico.

II. Hari Sabtu tanggal 12 Mei yang lalu saya memimpin pentas pentunjukan tari dan gamelan di Meyer Auditorium, Smithsonian Washington DC. Rombongan terdiri dari mahasiswa/musisi dari Wesleyan University dan KBRI. Penarinya Urip Sri Maeny, pensiunan guru tari di Wesleyan, dan Pamardi Tjiptopradonggo, dosen/penari dari ISI Solo, mengajar di Wesleyan sebagai tindak lanjut dari MoU antara ISI Solo dan Wesleyan yang saya rintis tahun lalu. Pertunjukan bisa ditonton di laman berikut ini: https://www.facebook.com/FreerSackler/videos/10156296174823788/

Dance from Indonesia: Classical and Modern Live from Meyer Auditorium, Freer Gallery of Art

Posted by Smithsonian’s Freer and Sackler Galleries on Saturday, May 12, 2018

The stories of the mask dance drama are based on the Panji tales. The tales feature the adventure of the prince Panji in search of his elusive bride, Sekartaji. These romances concerns with a wandering prince searching for a wandering princess; they are full of mysterious disguises, resurrections, transformations, and disappearances. Panji’s confrontation with his rivalry, such as a villain king, is another important part of the plot. Tonight, we present two dances of the characters from the mask dance drama: Klana and Gunungsari. Panji’s principal adversary in seizing the heart of Sekartaji is the king Klana, a strong, violent and rash king. The Klana dance represents the various moods—some heroic, some romantic—of the king. Gunungsari is a brother of Panji. He is a refined character. In assisting Panji searching for his bride, Gunungsari confronts the king Klana. Contemporary dance: Aside from being prominent dancer and choreographer of traditional dance and dance drama, Pamardi is also trained as and a practitioner of contemporary dance form. Tonight he presents one of his contemporary work entitle Amuck.

III. Pada tanggal 9-16 Agustus yang akan datang, saya akan membawa rombongan Wesleyan Gamelan Ensemble untuk berpartisipasi dalam Internasional Gamelan Festival di Solo, yang diselenggarakan oleh Kemdikbud dan Dirjen Kebudayaan. Terdiri dari graduate students, staff, dan lulusan Wesleyan, 20 musisi kami akan mementaskan gending tradisional dan eksperimental. Rencananya, festival juga akan launching buku saya, Memaknai Wayang dan Gamelan: Temu Silang Jawa, Islam, dan Global, kumpulan terjemahan esei-esei saya, dengan penutup hasil awal riset saya yang mutakhir tentang Islam dan seni pertunjukan Jawa (sampul buku, lihat di bawah).