Arti Hardiknas dan Dampaknya Pada Pendidikan Nasional

hardiknas-copy.jpg

Anto Mohsin, Ph.D.

Setiap tanggal 2 Mei bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Peringatan ini, seperti banyak peringatan hari-hari nasional lainnya, sudah menjadi semacam ritual tahunan lengkap dengan berbagai atributnya. Biasanya selain upacara bendera di kantor-kantor pemerintah, dikumandangkan juga tema yang berkenaan dengan hari nasional tersebut. Tema tahun ini adalah “Menguatkan Pendidikan, Memajukan Kebudayaan”. Berbagai surat kabar ramai meliput berita ini. Bersamaan dengan itu, tulisan-tulisan seputar pendidikan nasional ramai menghiasi media massa, baik cetak maupun maya.

Sayangnya walau sudah puluhan dan mungkin ratusan tulisan yang ditulis dan dicetak, pemikiran pendidikan nasional biasanya berkisar seputar hal-hal yang itu saja. Pada umumnya tulisan-tulisan mengangkat kisah hidup pahlawan nasional Ki Hajar Dewantara (yang hari lahirnya dijadikan Hardiknas) beserta pemikiran dan usahanya menjalankan pendidikan melalui Taman Siswa. Akan tetapi kebanyakan ulasannya singkat, tidak mendalam, tidak reflektif, dan tidak berdampak banyak bagi kehidupan bangsa.

Ambil contoh keputusan penting yang dilakukan Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (nama lahir Ki Hajar Dewantara) untuk menanggalkan gelar kebangsawanannya. Ini sangat berbeda dengan apa yang dilakukan oleh banyak akademisi kita saat ini yang condong menulis sederet gelar di depan dan di belakang nama mereka.  Sebenarnya cukup gelar tertinggi yang dipakai. Karena itu pun sudah menunjukkan prestasi yang baik. Yang lebih penting adalah bentuk kontribusinya di dunia ilmu pengetahuan dan pendidikan.

Selain itu jarang ada pemikiran yang baru dan segar untuk memajukan pendidikan nasional kita di seputar Hardiknas. Apalagi praktik-praktik pendidikan yang inovatif untuk benar-benar mencerdaskan kehidupan bangsa. Biasanya setelah 2 Mei berlalu, upacara selesai, liputan di surat kabar berhenti, kita kembali ke keadaan semula, sibuk dengan rutinitas sehari-hari. Bangsa Indonesia pun pelan-pelan akan melupakan masalah-masalah serius pendidikan nasional. Ini berlanjut biasanya sampai peringatan hari nasional berikutnya.

Jika dampak dari peringatan Hardiknas hanya sekadar ritual simbolis ketimbang perbincangan serius dan pembahasan kritis dan berisi mengenai pendidikan nasional kita, bagaimana kita sebaiknya memahami Hari Pendidikan Nasional?

Kalau kita mau jujur Hari Pendidikan Nasional sebenarnya ditetapkan dan diperingati untuk memperkuat identitas nasional atau keindonesiaan kita, bukan untuk mengulas pendidikan nasional secara mendalam. Ini karena banyak keputusan pemerintah mengenai hari-hari nasional dicetuskan untuk menghargai sumbangan berharga perorangan yang telah berjasa bagi bangsa atau untuk memperingati momen-momen bersejarah. Peringatan hari-hari nasional seperti Hardiknas diselenggarakan sebenarnya untuk memperkuat identitas bangsa, kata kita.

Dari Sabang sampai Merauke dan dari Pulau Miangas sampai Pulau Rote, warga Indonesia sadar ada hari nasional yang berarti tanggal 2 Mei. Untuk sesaat, perhatian kita tertumpu pada berita mengenai Hardiknas ini di surat kabar, televisi, dan internet. Berbagai tulisan yang muncul mengingatkan kita mengenai tokoh sejarah Ki Hajar Dewantara yang pernah berdedikasi mengusahakan pendidikan nasional yang lebih merata bagi rakyat Indonesia, bukan hanya bagi kaum elite saja. Dengan memperingati Hardiknas secara kolektif, keIndonesiaan kita akan terbangun dan terjaga.

Menanamkan dan memelihara rasa kebangsaan tentu penting dan perlu. Namun, kalau kita benar-benar mau membahas secara substantif mengenai pendidikan nasional, sebenarnya kita tidak perlu Hardiknas untuk melakukan hal ini.  Setiap saat seharusnya kita memikirkan dan membincangkan hal ini. Namun, karena ada Hardiknas, sayangnya bangsa Indonesia terlena. Berpikir seakan-akan perlu satu hari tertentu saja setiap tahun untuk memikirkan masalah-masalah pendidikan bangsa. Hasilnya sedikit sekali pemikiran-pemikiran dan praktik-praktik inovatif yang dihasilkan oleh bangsa Indonesia untuk memajukan sistem pendidikan nasional ke arah yang lebih baik.

Ini bukan berarti kita tidak perlu merayakan Hardiknas atau tidak mengapresiasi jasa-jasa Ki Hajar Dewantara. Saya yakin beliau akan lebih menghargai usaha memajukan pendidikan nasional yang berarti daripada sekadar hanya memperingati secara ritual simbolis hari lahirnya setiap tahun. Apalagi dia pernah menulis artikel kritis tentang perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda dengan judul “Seandainya Saya Seorang Belanda” (Als Ik Eens Nederlander Was) di surat kabar De Express pada 13 Juni 1913.

Kalau kita lihat negara-negara lain, baik yang menjadi tujuan pendidikan atau yang dijadikan contoh pendidikan oleh bangsa Indonesia (dalam hal ini saya bukan hanya bicara negara-negara Barat, tapi juga negara-negara non-Barat di mana banyak murid dan mahasiswa kita belajar mengenai kajian Islam, misalnya), apakah mereka punya Hari Pendidikan Nasional yang dirayakan setiap tahun? Jawabannya adalah tidak. Namun, bukan berarti mereka tidak memikirkan secara serius soal pendidikan nasionalnya. Bahkan beberapa negara sudah mulai memikirkan pendidikan internasional mereka (bukan hanya pendidikan nasionalnya) dengan membuka sekolah-sekolah di negara lain atau merekrut para mahasiswa dan mahasiswi asing. Biasanya lebih banyak orang asing yang belajar di suatu negara, lebih tinggi reputasi sistem pendidikan negara itu di dunia.

Ambil contoh Qatar, tempat saya mengajar dan tinggal dalam beberapa tahun belakangan.  Salah satu tujuan nasional Qatar yang tertuang dalam visi nasional tahun 2030-nya adalah membangun sumber daya manusianya, selain membangun masyarakat, ekonomi, dan lingkungannya. Sejak tahun 1995 ketika Yayasan Qatar untuk Pendidikan, Sains, dan Pembangunan Masyarakat didirikan, pemerintah Qatar sudah melakukan banyak hal berarti dalam bidang pendidikan.

Melalui Yayasan Qatar dan institusi-institusi terkait lainnya seperti Qatar National Research Fund, pemerintah Qatar kerap mencari dan menerapkan ide-ide baru untuk memajukan sistem diknas mereka. Studi-studi mengenai pendidikan mendapat dana dan perhatian tinggi bukan saja dari pemerintah, tapi juga praktisi pendidikan itu sendiri seperti para guru dan dosen. Salah satu hasilnya adalah pendidikan ilmu komputer inovatif “Alice Middle East” yang membuat lebih banyak murid-murid sekolah dasar dan menengah lebih tertarik belajar mengenai komputer.

Contoh lainnya acara pertemuan World Innovation Summit for Education (WISE) yang diadakan dua tahun sekali sejak tahun 2009. Acara ini mengundang pakar-pakar pendidikan dari seluruh dunia untuk membahas ide-ide dan pendekatan-pendekatan baru dalam bidang pendidikan. Berbagai tantangan, solusi, dan peluang di bidang pendidikan dibahas secara serius di konferensi internasional ini.

Dalam hal pendidikan dini dan dasar, di Qatar sekolah-sekolah dengan kurikulum nasional negara-negara luar seperti India, Filipina, Amerika Serikat, dan Inggris bisa berdiri, terbuka menerima, dan dapat mendidik murid dari berbagai bangsa. Bahkan pemerintah Qatar menghibahkan tanah untuk pendirian beberapa sekolah ini. Contohnya MES Indian School yang didirikan di tahun 1974 di atas tanah hibah 6.1 hektar. Memang sekolah-sekolah ini didirikan awalnya untuk menampung anak-anak para pekerja asing yang berada di Qatar. Akan tetapi, sejalan dengan waktu, sekolah-sekolah ini berkembang dan menyerap dan mengajar murid dari banyak bangsa.  

Dalam hal pendidikan tinggi, pemerintah Qatar telah berhasil mengundang 6 universitas dari Amerika Serikat, 1 universitas dari Perancis, dan 1 universitas dari Inggris untuk membuka kampus di Doha dan mengajar berbagai bidang keilmuan termasuk desain, ilmu komputer, jurnalisme, komunikasi, hubungan internasional, teknik, kedokteran, arkeologi dan bisnis. Para mahasiswa dan mahasiswi dan tenaga pengajarnya berasal dari berbagai bangsa. Pemerintah Qatar tidak anti asing dan tahu kalau produksi ilmu pengetahuan dan proses belajar mengajar akan menelurkan banyak hal baru, jika terjadi perpaduan banyak ide dan pendekatan dari tenaga-tenaga pengajar dengan berbagai latar belakang dan tradisi pendidikan.

Semua hal ini berjalan dengan baik tanpa Qatar harus memiliki dan memperingati Hari Pendidikan Nasional, walau sebenarnya Qatar memiliki tokoh nasional yang patut juga dirayakan hari lahirnya, karena idenya mengenai pendidikan atau tanggal spesial yang berkenaan dengan pendidikan. Sudah waktunya bangsa Indonesia membahas Pendidikan nasional lebih sering dan serius bukan hanya sekali setahun.

 

Anto Mohsin, Ph.D., pemerhati pendidikan di Qatar dan dosen di Liberal Arts Program, Northwestern University Qatar.